Dulu aku adalah salah satu orang yang merasa bahwa istilah Quarter Life Crisis itu overused, dibesar-besarkan, dan nggak segenting itu. Bukannya dalam setiap fase hidup kita mengalami krisis? Tapi ternyata setelah mengalami sendiri, baru aku sadar ternyata fase ini ada, and the battle is real.

Keadaan bahkan bisa menjadi lebih buruk ketika kita menghadapi fase ini tanpa dukungan memadai dari keluarga atau orang terdekat yang terpercaya, dan akhirnya yang bisa dilakukan adalah meng-Google untuk mencari tahu sendiri. Kalau misalnya semesta (atau algoritma Google) kebetulan mempertemukan kamu dengan blog ini, ingatlah bahwa kamu nggak menghadapinya sendiri 😊

Tentang Quarter Life Crisis

quarter life crisis calling

Biasanya istilah ini muncul di ucapan selamat ulang tahun. Misalnya kalau teman berulang tahun ke-25, orang akan mengucapkan, “Selamat menghadapi Quarter Life Crisis!”

Lucu sih, krisis malah jadi becanda wkwk.

Sebenarnya, Quarter Life Crisis adalah sebuah istilah psikologi yang menunjukkan keadaan emosional seperti kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah hidup. Krisis seperempat abad ini umumnya dialami oleh orang-orang di pertengahan usia 20 hingga 30 tahun, seperti aku.

Aku dan Quarter Life Crisis

Beberapa bulan menjelang ulang tahunku yang ke-25 bisa dibilang adalah hari-hari yang paling absurd dalam hidupku. Ya, besides period hits me (like it does every month), aku juga jadi lebih sensitif, emosional, gampang nangis, temperamen – singkatnya jadi Hulk. Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya itu semua hanyalah gejala yang terlihat di permukaan dari kebingungan yang sedang aku rasakan. Ada malam-malam di mana aku berasa hampa, kesepian banget, takut kehilangan apa yang aku punya, dan khawatir akan masa depan yang nggak keliatan arah tujuannya.

Dan itu bukannya tanpa sebab… dimulai dari membuat rencana menikah tapi masih punya tanggungan, ditambah hadirnya pandemi COVID-19 yang tiba-tiba mengguncang ekonomi. Banyak orang di lay-off, mencari pekerjaan jadi begitu susah. Gimana caranya membiayai pernikahan sambil memastikan bahwa kehidupan kami setelahnya akan cukup? Dan ketika aku menceritakan kegalauan ini, sebagian orang malah berkomentar, “kalau belum ada uangnya kenapa berani nikah?” Aku paham sih mungkin pertanyaan ini ada benarnya, tapi mempertanyakan hal ini ketika kamu terlanjur DP gedung tuh…

Kesulitan join in clique dengan teman di kantor juga mengkikis semangat kerja dan membuat aku mempertanyakan self-worth sendiri. Self-esteem pun semakin jatuh seiring dengan tingkat penggunaan media sosial. Kenapa si anu cantik banget, gue tetep kayak kentank? Kok si anu bisa tiba-tiba sukses banget usahanya, usaha gue malah gagal atau kerjaan gini-gini aja?  Si anu happy-happy aja, keluarganya kok hangat banget? Apa yang salah? Kenapa setiap orang seperti sudah menemukan tempatnya sedangkan I don’t know where I belong to…

Life as an Adult

remaja hivi
Tiada masa lebih indah dari masa remaja…

Akhirnya ada satu momen di mana aku sadar, Quarter Life Crisis ini adalah fase peralihan dari masa remaja di mana: you are welcome to adult life. Pada fase inilah masa remajamu officially berlalu. Dan konsekuensi dari menjadi dewasa adalah kita merasa dituntut untuk terus-menerus berkompetisi di marketplace. Kalau kamu nggak bisa berkompetisi dan nggak punya sesuatu, kamu nggak dihargai, kamu nggak punya teman, dan kamu nggak bahagia. Dan kita mungkin merasa belum siap untuk itu.

But it’s okay to be not ready! Sesedikit apa pun progress kita tetaplah berarti, dan betapa pun berliku jalannya, kita tetap menuju ke sana.

Ini juga mantra yang selalu berulang-ulang aku berusaha katakan pada diri sendiri:

“Nggak papa kalau kamu belum bisa DP rumah, asal kamu masih berusaha menabung. Nggak papa kalau kamu merasa mellow hari ini, asal kamu tetap berusaha produktif. Nggak papa teman kamu sedikit, yang penting hubungannya baik. Nggak papa usaha kamu gagal, asal kamu mau coba lagi.”

Mungkin Quarter Life Crisis setiap orang akan berbeda-beda bentuknya, mulai dari yang kelihatannya sepele sampai yang bener-bener susah banget untuk dijalani. Begitu pun aku. Aku yakin, semua terasa berat karena kita masih menjalaninya. Tapi setelah melalui fase ini dan kita sudah sampai di ujung jalan, kita akan paham mengapa kita berada di tempat kita berada sekarang.

Cara Menghadapi Quarter Life Crisis?

1. Berhenti membandingkan

Kita harus berusaha sebisa mungkin untuk tidak membandingkan diri kita dengan orang lain. Saat kita terlanjur melakukannya, alihkan perhatian dengan membuat sesuatu yang produktif. Catatan ini ditulis setelah aku melihat bisnis seorang teman yang sukses di Instagram, lalu aku mendadak merasa payah. Hehehe

2. Ikhlas

Ada hal-hal dalam hidup kita yang sudah terjadi dan nggak bisa diubah, misalnya keadaan keluarga atau penyakit yang tiba-tiba datang kepada orang terdekat kita. Mungkin kita merasa hal-hal ini akan menghambat kemajuan kita, dan kita cenderung berpikir, “coba hal ini nggak terjadi”.

Percayalah, berpikir begitu bukannya membuat maju, malah membuat kita jadi makin tenggelam dengan keadaan. Berdamai bukan berarti menyerah, tapi kita mencari jalan keluar sekalipun dihadang oleh persoalan-persoalan tersebut. Selama kita belum bisa berdamai dengan masalah-masalah ini, berarti kita belum siap untuk maju ke level berikutnya.

3. Berdoa

Hal penting lainnya adalah tetap berdoa dan menyerahkan setiap harapan dan usaha kita pada yang Mahakuasa. Meskipun kadang berdoa terasa sulit di tengah kekecewaan dan kepahitan yang dialami, kita harus tetap berdoa. Karena doa bisa mengembangkan perasaan bersyukur, ikhlas, dan menjauhkan kita dari depresi berkepanjangan.

Quarter Life Crisis memang bukan fase yang mudah untuk dijalani, tapi kita bisa bersama-sama melaluinya. Tetap semangat untuk semua teman yang sedang mengalami Quarter Life Crisis! Kalau dari kalian ada yang merasa kesepian, depresi, atau tidak punya teman yang dipercaya untuk sharing, I don’t have any psychology bachelor, but I’m very pleased to help! Silakan tinggalkan komentar di sini or you can reach me through my medsos.

Remember… life should not always be successful, but it must be meaningful!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here