Kecewa, luluh lantak, atau bahasa kekiniannya “ambyar” adalah perasaan yang sering muncul ketika apa yang kita harapkan tidak berjalan sesuai rencana. Aku yakin setiap orang pasti tau rasanya. Kecewa biasanya dialami karena gagal masuk sekolah idaman, gagal mendapatkan pekerjaan yang didambakan, putus cinta, atau bahkan karena keadaan keluarga atau pasangan sendiri. Pada kesempatan kali ini aku mau bahas bagaimana cara mengatasi kekecewaan, dan apa bahayanya kalau kita gagal mengatasinya. Yuk baca terus!

Mengapa Kekecewaan Terjadi?

life is full of surprises
be prepared for it!

Kecewa adalah reaksi terhadap ketidaksesuaian antara harapan, keinginan, dan kenyataan yang terjadi. Kekecewaan bisa dipicu oleh banyak faktor, seperti keadaan-keadaan yang sudah disebutkan di awal atau melalui campur tangan orang lain yang “jahat” kepada kita. Terkait hal ini, fakta yang mungkin penting untuk diketahui adalah bahwa kekecewaan nggak bisa dihindari dalam hidup.

Dulu waktu kecil, aku selalu bercita-cita menjadi fashion designer. Aku punya kemampuan menggambar dan melatihnya secara otodidak sampai mahir. Sejak SD, gambarku sudah kujual ke teman-teman di kelas. Aku pun sudah terpikir mau ambil sekolah fashion di mana. Sudah les jahit pula. Tapi kenyataannya, aku nggak bisa masuk sekolah fashion karena nggak cukup biaya. Bahkan setelah ditambah beasiswa, biayanya juga tetap nggak cukup :”) Akhirnya aku beralih ke jurusan komunikasi, and guess what? Sekarang aku bekerja sebagai penulis di sebuah perusahaan teknologi fashion.

gagal menjadi fashion designer
Salah satu gambar yang kubuat di kelas fashion

Dari peristiwa yang aku alami tersebut, tersirat makna bahwa sejatinya hidup yang kita jalani bukan sepenuhnya milik kita. Kalimat ini mungkin terdengar klise, tapi kenyataan membuktikan bahwa kita nggak bisa mengatur skenario apapun yang terjadi dalam hidup ini, life is full of plot twists!

Contoh lainnya, pandemi COVID-19. Nggak pernah terpikir bahwa hidup di tahun 2020 bisa menjadi serumit ini akibat sebuah organisme mikroskopik yang berukuran hanya 1.400 kali lebih kecil daripada rambut kita. Jadi? Kita setidakberdaya itu dalam mengatur takdir kita sendiri!

Kegagalan dalam menyadari fakta ini membuat kita mudah jatuh dalam perasaan kecewa.

Akibat Nggak Bisa Mengatasi Kekecewaan

Ketika ditimpa peristiwa yang nggak menyenangkan, biasanya pikiran pertama yang muncul adalah menilai bahwa hal ini merupakan sebuah kegagalan dan musibah, artinya peristiwa buruk. Lantas muncul pertanyaan: Kenapa hal ini terjadi? Kenapa si A jahat? Kok dia tega melakukan ini?

Memang betul bahwa mustahil untuk nggak merasa sedih ketika kita ditimpa kegagalan, musibah, dan kekecewaan. Ini bukan hal yang salah. Kecewa untuk sementara adalah hal yang sangat normal dan manusiawi. Tapi hati-hati, kecewa itu rupanya “enak”. Kalau kita nggak segera mengatasi kekecewaan, kita bisa terjebak menjadi 2 tipe orang ini.

1. Orang Kepahitan

Banyak orang sering menjadikan energi negatif dari kecewa sebagai zona nyaman. Nggak percaya? Pasti kamu pernah dong ketemu seseorang yang suka complain tentang banyak hal, kayak betapa pahitnya peristiwa yang mereka alami, kemudian sering mengungkit kesalahan orang lain? Seolah-olah mereka nggak berdaya untuk mengubah keadaan mereka sendiri. Orang-orang ini biasanya dilabeli sebagai “negative people”. Awalnya mungkin kita simpati, sampai akhirnya kita merasa terganggu dan akhirnya enggan untuk mendengar terus-menerus kegagalan dan kisah sedih mereka.

2. Orang yang Tertutup

Perasaan kecewa yang nggak diatasi dengan baik juga bisa membuat seseorang trauma dan takut untuk mencoba lagi, memulai lagi, dan percaya lagi. Mereka takut untuk jatuh lagi dalam kekecewaan, sehingga memilih untuk nggak mau terbuka pada siapa pun dan kesempatan apapun. Bila terjebak dalam keadaan ini, kita sama saja menutup jalan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Pasti kita nggak mau dong menjadi tipe-tipe orang-orang ini? Kita mau maju dalam hidup, bahagia, dan jadi pribadi yang lebih baik. Untuk itu, kita harus mampu mengatasi kekecewaan dengan cara yang dewasa!

Bagaimana Cara Mengatasi Kekecewaan?

cara mengatasi kekecewaan(1)

Semoga tips-tips berikut ini bisa membantu dalam memaknai dan mengatasi kekecewaan, serta mengubahnya jadi hal positif.

1. Keluarkan Perasaan Negatif

Menangis dan marah saat kecewa adalah reaksi yang wajar dan sangat penting untuk dilakukan. Jangan pernah berpikir bahwa memendam akan membuat semua baik-baik saja pada akhirnya. No! Jangan sok kuat! Seiring berjalannya waktu, bukan proses penyembuhan yang kita dapatkan dengan memendam, malah rasa sakit itu akan semakin besar dan mengganggu kebahagiaan kita. Tapi ingat, ekspresikan emosi dengan cara yang bertanggung jawab.

2. Ceritakan

Menumpahkan uneg-uneg kepada orang yang tepat bisa membantu membuang perasaan negatif. Cari seseorang dari lingkaran terdekat yang dewasa dan bisa dipercaya. Nggak punya siapa-siapa untuk diceritakan? Nggak masalah! Berdoa adalah cara menumpahkan uneg-uneg kita kepada Yang di Atas. Itulah mengapa orang yang matang secara spiritual biasanya lebih tegar dalam menghadapi hidup. Ya, karena mereka nggak merasa sendirian dan nggak mencari validasi atau dukungan dari orang lain.

Yang perlu diingat adalah, cukup sebentar aja fase curhat ini. Setelahnya? Stop nyinyir. Karena kalau terlena pada fase ini, kamu akhirnya malah stuck menjadi negative people.

3. Memaknai kekecewaan

Bisa jadi semua orang tau sudah makna kekecewaan, tapi tidak mampu memaknai kekecewaan. Inilah adalah pintu utama menuju penyembuhan yang membedakan apakah seseorang gagal atau tidak dalam mengatasi kekecewaan.

Misalnya, usahamu untuk masuk ke perusahaan idaman gagal padahal kamu sudah sampai tahap akhir interview dengan direksi. Daripada terus menerus mengingat betapa hal itu melukai harga diri dan harapanmu, kamu dapat memaknainya dengan berpikir bahwa mungkin tempat itu bukan tempat yang terbaik. Bisa saja kamu akan jadi stres berat dan nggak bahagia.

Kematangan spiritualitas, kecerdasan emosi, dan keterbukaan pikiran sangat diperlukan di sini. Dengan mampu memberi makna pada kekecewaan, rasa kecewa kita dapat dialihkan menjadi suatu energi positif.

4. Belajar Ikhlas

Setelah memberi makna pada kekecewaan, sikap yang perlu dibangun adalah belajar ikhlas untuk menerima kenyataan. Berdamai dengan situasi, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Ikhlas akan menyembuhkan luka, dengan catatan kamu perlu berusaha untuk nggak membahasnya lagi dalam jangka waktu yang lama. Percaya, when God closes a door, He opens a window. Apapun yang terjadi dalam kehidupan ini, entah baik dan buruk, semua terjadi untuk suatu tujuan yang baik.

5. Berkomitmen untuk Maju

Selesai berdamai? Ini saatnya untuk maju! Tutup buku lama dan buka lembaran yang baru. Tatap masa depan dan berhenti menengok ke masa lalu. Kita semua berdaya dan mempunyai pilihan kok, entah untuk bangkit atau tetap terpuruk. Kita perlu untuk tetap bersikap terbuka, dengan tetap lakukan hal-hal yang perlu untuk mencegah kekecewaan, misalnya membuat perjanjian atau mengkomunikasikan harapan-harapan sedari awal. Akhirnya, kita perlu menyadari bahwa cara mengatasi kekecewaan diperlukan untuk memproses seseorang menjadi dewasa.

Setiap langkah-langkah di atas sangat krusial dan harus dilakukan secara benar agar proses mengatasi kekecewaan bisa berhasil. Selain itu, selalu percaya dan taruh harapanmu pada yang Mahakuasa, yang mampu mengatur segala jalan dan peristiwa di hidupmu untuk kebaikanmu. Hal ini bisa dilakukan dengan banyak berdoa serta mempelajari firman yang membuka wawasan dan cara berpikir kita terhadap kehidupan.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kalian yang masih berkecimpung dalam kekecewaan. Mari bangkit dan tetap semangat!

*Disclaimer: Ini semua aku tulis dari perspektif, pengalaman, dan permenungan pribadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here