Merencanakan untuk menikah dalam waktu dekat? Selamat ya! Kali ini aku mau membagikan pengalaman aku mengurus dokumen syarat pernikahan katolik, baik untuk kanonik maupun pencatatan sipil dari A-Z. Ini update tahun 2019 – 2020. Ribet nggak sih? Ya lumayan, tapi kalau dipersiapkan dari jauh-jauh hari nggak seribet itu kok.

Nah, karena pernikahan katolik itu sekali seumur hidup dan nggak terceraikan, asumsinya kalian adalah capeng (calon pengantin) yang mengurus pernikahan pertama ya (belum pernah bercerai). Oke, jadi untuk mengurus syarat pernikahan katolik harus mulai dari mana?

1.Tentukan tanggal dan booking gereja

Ini adalah langkah pertama yang paling penting, khususnya kalau paroki kalian termasuk paroki besar dan tanggal yang kalian pilih untuk menikah itu tanggal cantik. Kayak aku di paroki Santo Yakobus Kelapa Gading (salah satu paroki yang ramai banget perkawinannya) dan tanggal yang aku pilih itu tanggal 10-10-2020, which is tanggal cantik banget, nah aku sudah datang untuk booking tanggal dari 1 tahun sebelumnya. Itu pun waktu aku datang slotnya sisa 2 dari 6 slot (di paroki ada 2 gereja soalnya). Siap-siap booking jauh-jauh hari ini juga berlaku di gereja yang sering diincar sama capeng, misalnya Katedral Jakarta.

Tapi biasanya, sekretariat akan mendahulukan warga parokinya. Misalnya warga non-paroki baru bisa booking maksimal 6 bulan sebelumnya. Oleh karena itu, kalau kalian mau numpang nikah (alias kedua calon pengantin tidak ada yang warga paroki situ), kalian harus ekstra usaha lagi untuk bisa booking tanggal dan mengurus administrasinya.

Oke, singkatnya… yang pertama harus dilakukan adalah datang ke sekretariat gereja tempat pemberkatan kalian mau dilaksanakan untuk booking tanggal dan waktu pemberkatan. Sakramen perkawinan atau pemberkatan katolik tidak boleh dilakukan di luar selain gereja (yang ada Tabernakel-nya). Lalu untuk booking, kita akan dikenakan biaya gedung untuk keperluan listrik dan lain-lain. Tiap paroki berbeda-beda, tapi kalau di Kelapa Gading kena Rp 2.000.000.

2. Urus syarat dan dokumen kanonik

Syarat pernikahan katolik berikutnya adalah mengurus dokumen kanonik. Untuk daftar dokumen yang diperlukan bisa dilihat di gambar ini.

syarat pernikahan katolik
Syarat Pernikahan Katolik

Nah sekarang aku akan rincikan.

1. Surat Baptis Diperbaharui

Pertama, surat baptis calon katolik harus diperbarui. Kenapa harus diperbarui? Karena untuk mengurus pernikahan, surat baptis tersebut akan diberi keterangan STATUS LIBER, alias tidak pernah menikah/single. Ini dua hal yang paling penting: di surat baptis kalian ada status liber dan sudah krisma. Kalau calon kalian beragama kristen protestan yang tergabung dengan PGI (Persatuan Gereja Indonesia), kumpulkan saja dokumen-dokumen dari gereja asal, seperti surat baptisnya dll. Untuk calon beragama kristen di luar PGI atau agama lainnya, membutuhkan surat dispensasi. Karena aku dan calonku sama-sama katolik, jadi bagian ini bisa ditanyakan selengkapnya ke paroki terkait ya.

2. Fotokopi Sertifikat MRT

Kedua, ikut kursus MRT (Membangun Rumah Tangga). Setiap tahun, kursus ini diadakan secara selang-seling di paroki-paroki berbeda. Menurutku akan lebih mudah kalau ikut kursus yang diadakan paroki sendiri, tapi kalau jadwalnya tidak memungkinkan, ikut kursus paroki tetangga juga tidak masalah. Dokumen yang diperlukan dari kursus ini adalah sertifikat MRT yang terdapat di bagian dalam buku/modul kursus. Nah sertifikat ini berlaku hanya 6 bulan sejak tanggal kursus. Misalnya aku menikah bulan Oktober, maka kursus sebaiknya dilakukan paling cepat bulan April. Oh ya, biaya kursus ini berkisar Rp 300.000 – Rp 450.000.

3. Fotokopi Kartu Keluarga Katolik & Surat Pengantar Lingkungan

Sudah dapat surat baptis dan sertifikat? Mantap! Langkah berikutnya, siapkan fotokopi KK (kartu keluarga) Katolik. Kalau kamu/calon baptis dewasa dan belum punya KK Katolik, segera ke sekretariat untuk cari tahu domisili kamu masuk wilayah mana, kemudian datangi ketua lingkungan/wilayah tersebut untuk mendapatkan KK Katolik. Pembuatannya lumayan cepat sih, kurang lebih seminggu. Sekalian, ketika bertemu ketua lingkungan, jangan lupa minta Surat Pengantar Lingkungan untuk mendaftarkan pemberkatan kamu di paroki.

5. Fotokopi KTP Kalian & Saksi Pernikahan

Kemudian, cari saksi pernikahan. Supaya gampang, cari pasangan selain orang tua yang beragama katolik dan kalau bisa pernikahannya sudah teruji dengan usia lebih dari 10 tahun. Bisa om, tante, atau kenalan dekat lainnya. Kemudian, minta fotokopi KTP mereka untuk melengkapi syarat administrasi. Jangan lupa bawa fotokopi KTP kalian juga.

6. Foto Berdampingan

Terakhir, foto! Sediakan foto berdua pasangan berlatar merah dengan posisi perempuan di sebelah kanan foto dan laki-laki di sebelah kiri foto. Ada 3 ukuran yang diminta, 2 untuk ditempel di buku MRT dan 1 untuk syarat administrasi.

Kumpulkan Syarat Pernikahan Katolik

Setelah semua syarat pernikahan katolik terpenuhi dan diserahkan ke sekretariat, sekretariat kemudian akan menjadwalkan kalian untuk penyelidikan kanonik bersama pastor paroki (biasanya yang akan memberkati). Sudah deh! Setelah itu tinggal tunggu jadwal gladi resik dan lain-lain. Mudah kan? Asal nggak mepet, mengurus administrasi nggak akan terburu-buru dan serepot itu, meskipun aku sendiri lumayan harus bolak-balik. Hehehe. 

Untuk syarat pernikahan katolik administrasi sipil, aku bahas di part 2 ya. Yuk klik di blog aku selanjutnya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here