pengalaman ekslusif pumping

Halo semua, kali ini aku mau menceritakan perjalanan menyusui alias mengASIhi dengan menjadi seorang ibu eksklusif pumping (eping). Aku juga akan berbagi caraku dalam mengatasi ASI sedikit dan tersumbat saat eksklusif pumping. Selamat membaca 🙂

Disclaimer: blog kali ini panjang yaa…

MengASIhi mulai dari tekad

Oleh saudaraku, aku sering dibilang anak sapi karena aku minum susu formula. Mamaku memilih untuk memberi kami semua sufor karena ia mengalami ASI seret di awal-awal dan inverted nipple yang membuat ketiga anaknya nggak bisa menyusu dengan baik.

Sebenarnya aku nggak masalah dengan pemberian sufor, tapi aku juga tahu kalau ASI adalah nutrisi terbaik. Karena itu, sejak hamil aku sangat bertekad mengASIhi anakku. Aku rajin menonton video menyusui. Bahkan aku dan suami membuat sebuah video nazar kalau aku nggak akan menyerah untuk menyusui anakku. 🔥

Nyatanya, perjalanan menyusuiku jauh dari kata mulus

Fast forward ke hari melahirkan, aku sudah membawa segala perlengkapan pompa dan botolnya untuk berjaga-jaga kalau (amit-amit) anakku harus masuk NICU karena BB-nya saat itu cukup rendah. Aku pun sempat membaca kalau ibu yang melahirkan melalui caesar lebih besar kemungkinan mengalami kesulitan menyusui karena kerja tubuh yang tidak natural saat persalinan. 

Syukurlah persalinanku melalui operasi caesar berjalan lancar dan anakku, Theo, lahir dengan sehat. Tapi setelah selesai operasi sekitar jam 12, Theo diobservasi selama 6 jam sampai sekitar maghrib. Jujur saat itu aku takut melewatkan golden hour menyusui, karena IMD (inisiasi menyusu dini) Theo hanya sekejap dan bahkan ia tidak merayap secara natural ke dadaku. 

Malamnya saat Theo dibawa ke kamarku untuk rooming-in, langsung dong aku diajari sama suster untuk menyusui. Saat itu jahitan caesar masih nyeri, jadi aku menyusui dengan pose menyamping. 

Kesan pertama menyusui? SAKIT. Rasanya seperti ada benda tajam yang digesek-gesek ke puting. Tapi kutahan. Aku juga sebenarnya tahu kalau terasa sakit, artinya pelekatan menyusuinya nggak bagus. Tapi bagaimana.. sudah dilepas dan ditempelkan kembali pun, Theo tetap nggak bisa melekat dengan baik.

Nggak cuma itu, 2 hari pasca melahirkan ASI-ku nggak keluar sama sekali. Aku berusaha nggak khawatir, karena dari yang aku baca, lambung bayi umur 1-2 hari masih sebesar kelereng. Untungnya selama di RS aku curi-curi pompa selagi Theo dimandikan suster, meskipun kata dokter nggak perlu. Tapi anjing menggonggong kafilah jalan terus, aku tetap pompa. Puji Tuhan, hari ketiga, ASI mulai menetes. Yes, aku kumpulkan sedikit-sedikit dan kusimpan di kantong ASI.

Kenapa akhirnya aku memutuskan eksklusif pumping

Masalah sebenarnya baru muncul sepulang dari rumah sakit. Lahir 2,8kg, pulang dari rumah sakit berat Theo hanya 2,46kg. Umur seminggu, Theo kelihatan makin kurus dan mulai menguning. Setelah menyusui pun dia selalu rewel dan nggak bisa tidur nyenyak. Alhasil selama 2 hari sepulang dari RS aku begadang full.

Benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan, akhirnya aku memutuskan mencoba memberi Theo ASIP dalam botol. Tadinya aku nggak mau memberinya botol karena takut ia akan bingung puting. Tapi seperti sihir, Theo minum dari botol dengan lahap dan segera tidur pulas! Saat itu aku merasa sangat menyesal karena membuat Theo lapar selama seminggu ini. 

Pengalaman Eksklusif Pumping
Pertama kali aku memberi Theo ASIP lewat botol

Oleh bidan yang memberikanku home service dan suami, aku disarankan untuk tetap menyusui langsung. Tapi kenyataannya, setiap menyusui langsung Theo pasti menangis rewel. Reaksinya cukup membuatku sedih dan trauma. Karena itu, akhirnya aku memutuskan menjadi mama eping (ekslusif pumping). 

Hari-hari berlalu, berat badan Theo bertambah, badannya semakin chubby. Aku juga mulai senang menjadi mama eping, karena berarti siapa saja bisa membantu menyusui Theo saat aku sedang melakukan hal lain. 

Tantangan saat eksklusif pumping

1. ASI sedikit

Masalah nggak berhenti sampai di situ. Saat eksklusif pumping, ASI nggak langsung lancar. Tahu dari mana ASI-ku sedikit? Karena nggak cukup untuk Theo saat dia sedang growth spurt atau cluster feed. Apalagi bayi usia sebulanan masih sangat dikejar berat badannya ya kan. Aku nggak bisa stok ASI sama sekali di bulan pertama karena selalu pas-pasan, lho. Bahkan Theo sempat aku kasih sufor dari rumah sakit 3-4 kali.

Cara aku dalam mengatasi ASI sedikit adalah dengan power pumping dan rutin pompa. Awal-awal, aku rutin selalu pompa 3 jam sekali, berarti 8 kali sehari. Nggak peduli di mana, mau pagi atau malam, aku bahkan bisa bangun subuh jam 2, jam 5 untuk power pumping. Capek? Bangettt… nggak bisa dikata. Sebulan pertama beratku langsung turun 10kg.

Pengalaman Eksklusif Pumping, cara mengatasi asi sedikit
Memperbanyak ASI dalam sebulan dengan rutin pompa & power pumping

Pelan-pelan, rutin pompa dan power pumping itu membuahkan hasil. ASI-ku makin hari makin banyak, dari awalnya cuma 60ml sekali pompa, jadi 160ml, 240ml, sampai bisa paling banyak 400ml! Semua karena konsisten bunda-bundi.

2. ASI tersumbat

Sudah deras pun bukan golden ticket untuk menyusui tanpa hambatan. Ada lagi ceritaku saat ASI tersumbat, yang menurutku sakitnya itu terpaling-paling kalau dibandingkan pegalnya hamil, nyeri jahitan, atau puting lecet. Sakitnya itu bikin kita nggak bisa mikir, maunya marah aja sambil nangis. 

Awalnya, aku panggil bidan untuk pijat yang bisa membuka sumbatan. Tapi sekali datang bayarnya 225 ribu, lho, sama kayak sufor sekaleng. :”) Mana seminggu kemudian tersumbat lagi.

Akhirnya aku menemukan cara mengatasi ASI tersumbat yang ampuh di aku, yaitu kompres payudara pakai kol dingin. Caranya, kol aku bersihkan dan masukan ke freezer/chiller, lalu selipkan ke bra di tempat yang sakit selama 20 menit (jangan lama-lama ya katanya bisa bikin ASI seret), lalu pompa seperti biasa. Kalau sesi pompa 1x belum beres, 2x biasanya sudah plong.

3. Puting nyeri

Meski nggak menyusui langsung, puting juga bisa lecet. Sakitnya muncul setiap selesai pompa, apalagi saat mandi air dingin… rasanya kayak ditusuk-tusuk jarum. Saat itu aku curiga entah corongnya yang kekecilan atau aku mengalami infeksi jamur di puting, karena area kemaluan anakku juga berjamur.

Akhirnya selama kurang lebih sebulan, aku hiatus dari pompa elektrik ke teknik marmet, alias manual pakai tangan. Bayangin 8 kali sehari meres susu pakai tangan. 😂 Awalnya susah, lama-lama bisa. Terus nanya ke dokter lewat Whatsapp, nggak digubris, akhirnya aku berikhtiar pakai salep miconazole selama 7 hari dan sembuh.

4. Omongan orang sekitar

Selain fisik, menyusui itu juga dipengaruhi sama faktor mental. Masalahnya, orang-orang sekitar itu senang sekali mengomentari pilihan kita sebagai seorang ibu, meskipun mungkin kadang niatnya untuk menyemangati ya. Ditambah lagi pengaruh gejolak hormon yang bikin ibu baru itu jauh lebih sensitif dan gampang stres.

Aku pun sempat mengalaminya. Aku sering curi-curi dengar orang bertanya ke suami atau ke mamaku, anakku dikasih ASI atau sufor. Belum lagi orang terdekat suka nyeletuk, “harus kasih ASI ya”, hhh rasanya keki banget. Ini anakku lho, jelas aku pasti mau kasih yang terbaik buat dia.

Intinya kalau mau berhasil menyusui, bunda bundi harus yakin sama diri sendiri. Meskipun kanan kiri banyak komentar atau nanya-nanya yang bikin kesel, jangan menyerah. Nangis nggak apa-apa, tapi setelahnya harus bangkit lagi. Para paksu alias pak suami juga sebaiknya banyak sabar kalau istrinya cerita yang itu-itu melulu, ya. Dan jangan lupa dibantu-bantu juga istrinya oke…

Itu dia pengalaman aku menyusui sebagai mama eping alias eksklusif pumping. Jatuh bangun banget, tapi puji Tuhan sudah jalan 5 bulan dan rencananya akan berlanjut paling nggak sampai 6 bulan demi kewarasanku. Sisanya mungkin aku akan pakai stok ASI yang sudah ada saja. We’ll see…

Semoga pengalaman ini bisa membantu & menyemangati para busui. Terima kasih sudah membaca!

Previous articleMelahirkan Caesar di RS Columbia Asia Pulomas: Review & Biaya 
Next articleReview Masker The Body Shop: Mana yang Paling Bagus?
A full time writer, millennial mother, and passionate lover. I love learning and sharing!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here