pilih pompa asi manual atau elektrik

Pompa ASI manual atau elektrik, pilih mana yang lebih bagus, ya?

Hai semua… Duh, aku ngerti banget kegalauan ibu baru tentang topik yang satu ini soalnya aku mengalaminya juga sewaktu mempersiapkan barang-barang baby.

Oleh karena itu, kali ini aku sebagai ibu yang Ekslusif Pumping (Eping) mau membahasnya secara detail dengan mempertimbangkan 3 faktor, yaitu: efektivitas, kepraktisan, dan harga. Baca sampai selesai, yuk.

Disclaimer: perjalanan menyusui setiap ibu pastinya berbeda-beda, jadi rekomendasi yang aku berikan di sini murni berdasarkan pengalaman pribadi yang bersifat subyektif, ya..

Pernah pakai pompa elektrik sampai yang benar-benar manual, alias “tangan”

Pilih pompa ASI adalah topik yang selalu hangat, apalagi untuk ibu baru. Ada banyak konten di luar sana tentang rekomendasi pompa, tapi seringkali menurutku kurang “ngena” karena berasa gitu kalau penulisnya belum pernah menyusui atau cuma buat jualan doang.

Dan ternyata apa yang sebenarnya aku alami sebagai busui memang jauh dari kata mulus. Selama menyusui aku menemukan banyak tantangan, dan setiap tantangan itu membuatku harus mengubah idealisme serta “alat” yang aku pakai. Aku bahas dulu satu persatu di sini.

1. ASI nggak langsung keluar – solusiku: pompa elektrik

Beberapa ibu yang aku tonton di Youtube menyarankan untuk membawa pompa ASI ke rumah sakit. Meskipun kelihatannya nggak penting – mungkin ada ibu yang mikir, “buat apa? toh aku bakal netein anakku langsung” – ternyata pompa ini penting dibawa ke RS untuk berjaga-jaga misalnya baby harus masuk NICU sehingga nggak bisa in room dengan kita, atau untuk mancing ASI yang nggak langsung keluar – seperti aku.

Yes, ASIku nggak langsung keluar setelah melahirkan meski sudah mengikuti saran dokter untuk terus menyusui langsung. Untungnya, aku bawa pompa untuk “memancing” ASI dan ternyata cara ini berhasil di hari ke-3. Padahal, aku pakai pompa ini hanya kalau anakku sedang dimandiin suster.

Pompanya apa ya? Karena saat itu aku ibu baru dan takut pegal kalau pakai yang manual, jadi awalnya pilihanku jatuh ke pompa elektrik. Aku beli pompa Spectra Q+ karena beberapa kelebihan yang aku pertimbangkan, di antaranya:

  • Hospital grade
  • Budgetnya masih masuk di kantong
  • Bisa dibawa ke mana-mana karena mesinnya kecil

2. Puting sakit & mastitis – solusiku: perah pakai tangan

Singkat cerita, pompa elektrik sukses menyelamatkanku di minggu-minggu pertama menyusui – sampai putingku mendadak sakit sekaligus mengalami mastitis juga. Waktu itu merupakan salah satu minggu terberat dalam perjalanan menyusuiku. Badan panas dingin, lemas, sakit… rasanya mau berhenti aja!

Oleh bidan yang membantuku pijat laktasi, aku diajarkan cara memijat payudara untuk mengeluarkan sumbatannya. Awalnya lega, tapi seminggu kemudian kambuh lagi.ūüėĒ Akhirnya, aku belajar teknik marmet, alias memeras ASI manual menggunakan tangan. Awalnya susah dan berantakan, tapi kemudian aku jadi tahu titik-titik saluran ASIku. Aku pun menggunakan teknik ini kurang lebih selama 2 minggu.

Oh ya, kenapa putingku bisa sakit? Saat itu aku nggak yakin jawabannya. Antara sakit karena corong pompa nggak pas atau infeksi jamur. Rasa sakitnya itu seperti kena benda tajam, perih banget terutama sehabis pompa, saat kena baju, atau air dingin.

Akhirnya aku putuskan memakai salep anti jamur, eh lama-kelamaan hilang sakitnya!

3. Sesi pompa lama & tidak praktis – solusiku: pompa manual

Setelah masalah mastitis dan puting sakit berlalu, aku kembali menggunakan pompa. Tapi kok, ternyata pumping dengan pompa elektrik memakan waktu lama ya.. Jika menggunakan tangan aku bisa selesai dalam durasi 30 menit, sedangkan pompa elektrik bisa menghabiskan 40 menit, itu pun hasilnya lebih sedikit.

Selain itu, aku juga mulai merasa kurang nyaman menggunakan pompa elektrik. Alasan pertama, karena Spectra Q+ harus dicolok ke sumber listrik, jadi nggak bisa dipakai di perjalanan. Kedua, mesinnya berisik, jadi saat anakku tidur, aku nggak bisa pompa di ruangan yang sama. Sebenarnya ini relatif sih, toh sekarang banyak pompa elektrik wireless dengan suara mesin yang lebih tenang.

Tapi aku pribadi sayang kalau harus keluar budget lagi untuk beli pompa mahal, akhirnya kuputuskan untuk mencoba pompa manual. Saat itu aku membeli merek Momi Homi dari Tokopedia. Harganya terjangkau banget, kurang dari 100ribu. Sebenarnya sih ada yang lebih laris daripada Momi Homi, tapi pertimbanganku ingin leher botol yang sama-sama wide neck, supaya bisa diganti dengan botol Philips Avent ukuran besar 260ml.

Gimana hasilnya? Ternyata, aku sangat puas memakai pompa ASI manual! Selain murah, nggak berisik, sedotannya pun jauh lebih kuat. Aku bisa menyelesaikan sesi pompa hanya dalam 20 menit dengan hasil yang banyak. Cocok sekali buat ibu-ibu yang punya banyak kesibukan. Memang awalnya pegal karena belum terbiasa, tapi lama-lama nggak pegal sama sekali. Pompa manual ini setia kugunakan sampai aku menyapih.

Jadi antara pompa ASI elektrik atau manual, pilih yang mana?

Kalau dari pengalaman yang aku ceritakan di atas, aku akan 100% merekomendasikan pompa manual. Sebab aku pun seorang ibu yang bekerja penuh waktu, dan sesi pumping menggunakan pompa manual ternyata nggak mengganggu aktivitas sama sekali, malah bisa lebih cepat durasinya. Selain itu, harganya sangat terjangkau, nggak membebani sama sekali kalau kita memiliki budget terbatas.

“Tapi kembali lagi, kebutuhan dan preferensi setiap ibu berbeda. Saranku, ikuti intuisi kita, karena seringkali intuisi bisa membawa kita pada solusi.”

Namun sekedar referensi, aku merangkum pro dan kontra dari pompa elektrik dan manual berdasarkan pengalamanku di sini. Semoga bisa menjadi pertimbangan ya.

pilih pompa asi manual atau elektrik

Jangan lupa pakai silicone breast pump

Oh ya, selain menggunakan pompa ASI manual/elektrik, silicone breast pump atau pompa silikon ini juga wajib punya.. alasannya:

  • Saat payudara satu dipompa, silicone breast pump bisa memicu let down reflex di payudara satunya. Jadi payudara lebih cepat kosong dan sesi pompa menjadi lebih singkat.
  • Saat payudara tersumbat, silicone breast pump bisa membantu membuka sumbatannya. Ikuti cara-cara berikut ini:

Untuk mereknya bebas sih, boleh Haakaa, Mooimom, Gabag, atau Momi Homi.. baca-baca saja reviewnya, bahan mana yang lebih bagus dan nyaman. Soalnya yang mahal atau murah, keduanya sama-sama berfungsi.

Jadi, jangan galau lagi kalau harus pilih pompa ASI elektrik atau manual ya. Apapun pilihannya, ingat.. Fed is Best!

Terima kasih sudah membaca, semoga informasi ini bermanfaat!

Previous articleReview Jujur Somethinc Bust Firming Serum: Bagus Tidak?
A full time writer, millennial mother, and passionate lover. I love learning and sharing!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here